penanganan
kutu pada hewan kesayangan
Oleh Ryan Harry dan Jco Jha
Predator (musuh / pemangsa) kutu secara
alami adalah beberapa jenis
burung, tikus, serta semut yang dapat
mengurangi populasi kutu yang
hidup bebas. Sejenis semut api (Pheidole megachepala)
merupakan
predator kutu terkenal.
Pengontrolan terhadap kutu hewan harus
dilakukan rutin dengan mengingat beberapa aspek.
1. Seluruh
hewan dalam satu rumah harus mendapat treatment parasitida,
seperti pirethin, organopospat, atau produk
karbamat secara teratur.
Aplikasi langsung pada kulit dapat
dilakukan dalam bentuk: semprot
(spray), mandi (dipping), atau bedak tabur.
Hati-hati dengan
produk-produk itu karena biasanya hewan
amat sensitif. Alternatif
lain, dapat menggunakan kalung antikutu (flea
collar) yang mengandung
bahan aktif amitraz guna mencegah kutu baru
serta mengurangi kutu yang
sudah ada lebih dahulu.
2. Tempat
bekas tempat tidur hewan harus diberi insektisida guna
memberantas telur dan larva. Alas tidur
harus sering diganti dan dicuci
secara rutin.
3. Ruangan
yang sering didatangi hewan harus sering dibersihkan dan di-vacuum cleaner.
4. Tempat
di luar yang sering ditiduri hewan tadi harus sering dibersihkan dan diberi
insektisida terutama pada musim panas.
5. Mandikan
secara berkala hewan kesayangan kita agar sejenis kutu
berkulit keras (caplak) yang biasanya
sangat erat berikatan dengan
kulit hewan anjing tidak memiliki
kesempatan berlama-lama di tubuh dan
membatasi kesempatan neurotoksin asal kutu
tidak diserap tubuh hewan
maupun kemungkinan transmisi kuman patogen
lainnya.
Banyak pemilik hewan kesayangan lebih suka
membeli obat kutu di
pasar-pasar swalayan atau pet-shop yang
tidak dilengkapi saran
pemakaian maupun pencegahan penyakit.
Hati-hati memilih obat kutu,
terutama dari segi keamanan, guna mencegah
keracunan pada hewan kesayangan kita.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan
dalam memilih produk
eksternal parasitida adalah:(1) kandungan
zat aktif, (2) target parasit
yang akan dibasmi, (3) potensi, (4)
keamanan, (5) dosis, dan (6)
kemudahan cara pemakaian.
Yang amat perlu diperhatikan adalah bahaya
keracunan. Biasanya obat
kutu tidak saja bekerja membasmi kutu
tetapi juga menghambat kerja
suatu enzim ACTH yang membantu proses
metabolisme dalam tubuh hewan.
Perhatikan pemakaian dosis yang tepat,
hindari dosis yang berlebih
karena akan membahayakan keselamatan hewan
kesayangan kita. Jangan
mengaplikasikan kepada hewan yang sedang
sakit, sedang menuju proses
penyembuhan penyakit, sedang stres, atau
hewan yang berumur di bawah tiga bulan.
Alternatif obat kutu tradisional yang
berasal dari akar tanaman
rotenon dan pyrethrin yang berasal dari
ekstrak bunga Chrysanthemum
cinerariaefolium merupakan produk yang aman
bagi manusia dan hewan.
Beberapa orang yang hewan kesayangannya
menjadi pasien saya
mengatakan pengalaman mereka memberantas
kutu hewan dengan minyak tanah
atau DDT maupun tembakau. Pemakaian segala
bentuk parasitida kalau
tidak hati-hati atau berlebihan akan
menimbulkan keracunan, di mana
hewan yang terkena akan mengalami
kekejangan, muntah serta merusak
sistem pernapasan. Akhirnya, hewan tidak
sadar diri (koma) sebelum
akhirnya mati. Karena kelalaian kita,
jangan sampai parasitida yang
dipakai untuk memberantas kutu, justru ikut
menewaskan binatang
kesayangan. Segera bawa hewan kesayangan
kita pada dokter-hewan
terdekat guna mendapatkan pertolongan
segera bila Anda menjumpai
masalah keracunan itu.
* Drh Ida Lestari Soedijar MSc, dokter
hewan praktisi umum – Kompas.com – Jumat 10 November 2000
*copas dr kompas, sekedar share informasi
mohon kalo ada tambahan di edit aja..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar