Ayah
Single Parent dan Ibu Asuh pada Hamster
by: Andi Nursaiful/berbagai sumber
Sebagian pemelihara hamster mungkin pernah
mengalami induk hamsternya yang tengah menyusui anak-anaknya tiba-tiba mati
karena satu dan lain sebab. Sebagian lainnya mungkin menemukan bayi-bayi
hamsternya mati tak lama setelah sang induk jantan (ayah) dipisahkan dari
betina.
Pengalaman pribadi saya, yang merupakan uji
coba dari hasil penelitian ilmiah yang dilakukan para ahli, menemukan bahwa
induk jantan ternyata benar bisa "menyusui" bayi-bayi piatu yang
ditinggal mati sang induk.
Selama ini berkembang mitos tentang nursing
father di dunia hamster. Konon, jantan bisa menyusui anak-anak, terutama
anak-anak yang ditinggal mati oleh sang induk betina.
Benarkah?
Mitos itu ternyata kini berubah menjadi
realitas berkat penelitian terbaru yang dilakukan para ahli di Department of
Biology, Queen’s University, Ontario, Canada, oleh Katherine Wynne-Edwards dan
para koleganya. Subyek penelitian adalah Dwarf Russian Campbell.
Kesimpulan penelitian lantas dimuat di
jurnal the New Scientist dan pubmed pada edisi Mei-Juni 2010, pada rubrik
"Hormones and Behaviour" dgn judul "Nursing father- myth or
reality? The role of secretions of father-male specific skin glands in survival
and of Campbell's hamsters offspring (Phodopus campbelli).
Jantan hamster Campbell memiliki apa yang
disebut dengan skin gland, atau kelenjar kulit yang mengeluarkan cairan dan bau
khusus. Kelenjar ini terdapat pada perut jantan, ibarat pusar pada manusia. Anak-anak
hamster yang tidak bisa menyusu karena induk betina mati, ternyata bisa survive
berkat Skin Gland ini.
Katherine Wynne-Edwards melakukan beberapa
hipotesa, dengan melibatkan ratusan pasang hamster. Masing-masing kandang
terdiri bayi-bayi hamster usia 7-8 hari. Mereka dipisahkan dari induk betina
dan/atau jantan hingga usia 30 hari. Sebagian jantan diangkat/dibuang skin
gland-nya.
Hasilnya sangat mengejutkan. Tingkat
survive bayi-bayi hamster yang kehilangan induk betina namun tetap diasuh oleh sang
induk jantan yang memiliki skin gland, jauh lebih tinggi ketimbang bayi2 yang
diasuh oleh jantan yg terlebih dulu diangkat/dibuang skin gland-nya.
Artinya, skin glands dianggap sebagai
faktor penting yang membuat bayi-bayi itu tetap hidup, ataupun membuat
bayi-bayi hamster yg diasuh oleh kedua ortunya lebih sehat dari bayi yang hanya
diasuh oleh induk betina. Skin Gland rupanya menjadi sumber nutrisi cadangan
bagi bayi-bayi piatu, sekaligus nutrisi tambahan bagi bayi yag ikut diasuh sang
ayah.
Temuan lainnya, menunjukkan bahwa jantan
campbell juga mengalami fluktuasi hormonal yang mirip dengan yang dialami
betina campbell pada masa-masa melahirkan dan menyusui. Level hormon Oestrogen
dan cortisol jantan meningkat sebelum proses kelahiran dan kembali turun
setelah betina melahirkan dan bersamaan ketika hormon testosterone meningkat.
Para peneliti dari Kanada itu juga
melaporkan tingginya peran jantan campbell pada proses kelahiran. Mereka
menyaksikan jantan campbell membantu menarik bayi hamster dari mulut rahim
betina yang kesulitan mengejan (saya juga pernah melihat ini bbrpa kali pada
hamster di rumah).
Sang jantan yang bertanggungjawab ini
lantas menjilati cairan ketuban sang bayi untuk membersihkan tubuhnya,
sekaligus untuk membuka jalan nafas di sekitar mulut dan hidung sang bayi.
Setelah bersih, sang jantan menggabungkan bayi itu ke bayi-bayi lain.
Namun ini hanya terjadi pada campbell.
Jantan WW atau hybrid umumnya "ngilang" dan asyik tidur2an saat sang
betina berjuang mati-matian dalam proses kelahiran.
Pamela Milward dari British Hamster
Association (BHA) juga merujuk hasil penelitian ini saat menulis pada terbitan
BHA. Pamela menyebutkan, memang sudah sejak lama diketahui bahwa Russian Dwarf
(baik Campbell maupun WW) ikut membantu bayi-bayinya. Bahkan Dr Fred Petry,
penulis buku Dwarf Hamsters, menyebutkan bahwa tingkat survival bayi hamster
mencapai 95% pada usia 5 hari ke atas jika sang ayah masih ikut mengasuh.
Sebaliknya, survival rate-nya hanya 47% jika hanya diasuh sendirian oleh sang
induk betina.
Menurut Pamela, karena campbell tinggal di
habitat yang keras, kehadiran jantan saat proses kelahiran sangatlah penting,
demi menjaga kenyamanan sang induk betina, demi kehangatan bayi-bayi mereka,
sekaligus untuk menjaga bayi-bayi jika sang induk kena giliran keluar sarang
mencari makan.
Lantas
bagaimana dengan hamster-hamster kita di rumah?
Hasil penelitian Katherine Wynne-Edwards
dan koleganya di Kanada, terbukti banyak benarnya. Saya pernah mengujinya di
rumah, dan saya juga pernah menyaksikan jantan campbell membantu proses
kelahiran, memotong tali pusar bayi, dan membersihkan sang bayi. Setelah semua
proses selesai, sang jantan yang tengah meningkat hormon testosterone-nya
langung minta jatah "kawin" pada sang betina. Malah ada yang sudah
minta jatah sebelum semua bayi sukses dilahirkan.
Saya juga lebih dari sekali menyaksikan
bayi-bayi hamster akhirnya mati karena terlambat disusui, gara-gara sang betina
sibuk mengusir jantan yang minta jatah. Ada jantan yang "mau mengerti"
keadaan pasangannya, tp ada juga yang tidak sanggup membendung hormon
testosterone yang tengah memuncak!
Lantas
apa yang harus kita perbuat untuk memastikan bayi2 hamster kita bisa survive
semua?
Menurut saya, dan berdasarkan pengalaman,
sebaiknya kita mengenali karakter induk betina, induk jantan, dan kualitas
hubungan mereka. Ada induk betina yang panikan, tapi ada yang tak acuh dengan
kehadiran kita saat melahirkan dan menyusui. Sebaliknya, ada jantan yang
"penyabar" dan penuh tanggung jawab, tapi ada juga yang tidak.
Lalu ada pasangan hamster yang kualitas
hubungannya sangat bagus, sehingga betina merasa aman dan tenang saat mengasuh
bayi-bayinya. Biasanya betina jadi panik ketika jantan dipisah. Tapi ada pula
pasangan yang kualitas hubungannya kurang baik, sehingga sang betina yang
tengah mengasuh bayi selalu merasa tidak tenang dan tidak menginginkan
kehadiran sang jantan di sekitarnya.
Namun satu hal yang tidak boleh Anda
lupakan adalah kemungkinan lahirnya "bayi-bayi sundulan" (istilah di Indonesia
ketika sang induk kembali melahirkan pada hari ke-18 sampai ke-21 sejak
kelahiran terakhir) jika sang jantan tetap disatukan.
Hal ini akan membuat bayi-bayi baru itu
kekurangan jatah ASI karena kakak-kakaknya masih suka ikut menyusu (minimal ikut
cari kehangatan di bawah perut induk betina). Bayi sundulan umumnya kekurangan
gizi. BAyi sundulan jelas akan menguras energi dan kesehatan induk betina. Bayi
sundulan pun berarti menambah populasi dlm waktu singkat. Dan tambahan populasi
berarti tambahan cost dan waktu.
Tentang
Ibu Asuh
Masih terkait dengan kondisi di mana sang
induk betina mati karena satu dan lain hal, pengalaman menunjukkan bahwa induk
dwarf (termasuk roborovski), baik jantan dan terutama betina, memiliki naluri
keibuan yang sangat tinggi.
Untuk mempertinggi tingkat hidup bayi-bayi
hamster saya, dan terutama untuk mempertahankan hidup bayi piatu, Saya sering
memberikan bayi piatu kepada induk hamster lain yang tengah menyusui bayi. Dan
hasilnya cukup mengejutkan bagi saya. Belum ada ibu asuh yang menolak mengasuh
bayi dari induk lain. Baik dari ww/hibrid ke Campbell atau sebaliknya, bahkan
pernah dari robo ke campbell/ww/hibrid dan sebaliknya.
Cuma saja, perlu diperhatikan: usia bayi
yang akan dicarikan ibu asuh, jumlah bayi calon ibu asuh, kondisi bayi yang
akan diasuh, kondisi kesehatan dan track record pengasuhan calon ibu asuh, dan
sudah berapa lama sang bayi malang itu belum menyusu sejak ditinggal mati sang
ibu. Soal kehadiran jantan pada calon ibu asuh? Saya tidak pernah melihat
"Bapak asuh" menyerang atau membunuh bayi asuh.
Artikel ini bertujuan untuk sharing info
dan pengalaman kepada para pecinta, pemelihara, peternak, dan pemerhati
hamster. Jangan pernah melupakan bahwa banyak sekali faktor yang ikut
berpengaruh jika pengalaman dan penelitian di atas coba-coba diterapkan. Mulai
dari faktor kualitas indukan, asupan pakan, pemahaman dan pengalaman dalam
merawat hamster, hingga kondisi lingkungan, dst, dst.
Apapun yang Anda lakukan, dan akan Anda
lakukan, sebaiknya disertai tanggung jawab penuh dan berbekal pemahaman akan
risiko-risiko yang terukur. Salam Hamster!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar